Kamis, 29 Desember 2016

NEURO LINGUISTIC PARENTING

Oleh : Bapak Richad D.S. Afandi

RINGKASAN MATERI DISKUSI GROUP HYPNOMATH – MATH FOR FUN
Senin, 26 Desember 2016


Salam kenal orangtua pembelajar. Dan hari ini izinkan saya ikut serta bersama belajar tentang parenting. Disini karena saya yakin pengalaman rekan – rekan pasti lebih banyak karena setiap keluarga itu unik.
Unik? Ada apa dengan kata unik?
Seperti itulah keluarga, setiap keluarga belum tentu punya pola asuh yang sama dan punya cara yang sama dalam membangun pondasi dan mendidik anak.

Pada tema kali ini saya akan mengenalkan sebuah ilmu yang dahsyat yang mungkin sedang tren saat ini yang mempelajari tentang manusia. Dalam hal ini yang kita bahas adalah manusia dalam keluarga itu sendiri.

Neuro Linguistic Parenting adalah ilmu bagaimana memasukan atau menciptakan pola asuh yang tepat untuk anak dengan mengoptimalkan komunikasi yang mudah diterima oleh otak anak.

Salah satu pola yang dipakai oleh NLP adalah Virginia Satir, beliau adalah seorang ahli terapi keluarga yang sangat terkenal dalam sehari menangani puluhan kasus tentang keluarga dan hampir kasusnya closed semua dengan baik bahkan suami istri yang mau cerai bisa rujuk dengan cepat.

Anak yang suka bertengkar dengan orangtuanya bisa jadi anak yang menghargai ortunya dan akhirnya hubungannya semakin harmonis.
Kok Bisa?
Yubs…. Setelah diteliti ternyata menurut Virginia Satir permasalahan dalam keluarga itu terbagi menjadi 4 isue besar. Yaitu :
1. Selfworth
2. Komunikasi
3. Rule atau aturan dalam keluarga
4. Hubungan keluarga dengan lingkungan yang ada di luarnya

Nah untuk membahas itu semua harus mengikuti kursus minimal 2 hari, nah hari ini kita akan fokus membahas tentang Selfworth.

Selfworth adalah penghargaan diri. Dan itu salah satu masalah paling besar saat ini. Berapa banyak anak yang terjebak di dunia maya? Tau penyebabnya? Berapa banyak anak keranjingan FB dan Istagram? Tau penyebabnya? Karena di FB ada like dan Istagram ada LOVE yang mereka tidak dapatkan di dunia nyata.

Like dan Love tersebut adalah bentuk penghargaan diri bagi mereka yang butuh dinyatakan bahwa mereka diterima dan dihargai bahkan belum lagi pujian dari rekan di media sosial.

Di media sosial yang membuat mereka menjadi semakin merasa dihargai. Nah sekarang coba bandingkan dengan kata like dan love di dunia nyata.

Apakah ortu dan teman2 selalu menyatakan kata2 tersebut?
Sekarang tebak akan lebih mendengarkan kata siapa mereka?

Coba analisa mengenai kasus EMON. Saya meminta Anda membaca tentang Emon karena ini menarik.

Bagaimana anak bisa dekat kepada Emon?
Hal pertama yang dilakukan Emon adalah Emon paham bagaimana memperlakukan anak sesuai harga dirinya (terlepas dari kejahatannya).

Apakah Orangtuanya melakukan hal yang serupa? Jawabannya adalah TIDAK. Ayah dan ibu mereka sibuk dengan pekerjaan. Pengasuhnya hanya fokus pada kebutuhan makan dan minum.

Sementara ada yang mengajak mereka main. Dan anak2 tersebut belum begitu trauma sebelum adanya orangtua yang mengekspose ke media masa tentang perilaku Emon.

Bagaimana ortu bisa menghargai anaknya dengan cara berkomunikasi sesuai dengan apa yang dibutuhkan anaknya?
Contoh lain tentang membandingkan anaknya dengan saudaranya atau dengan orang lain. Membandingkan itu berbahaya.

Jika membunuh harga diri anak ada maka akan ada 3 hal yang terjadi :

  1. Anak akan benci kepada orang yang membandingkan (bayangkan yang membandingkan adalah ortu mereka sendiri. Kira2 siapa yang akan dibenci?)
  2. Anak akan membenci orang yang dibandingkan dengannya.
  3. Anak akan melakukan hal kebalikan dari orang yang dibandingkan.
Sangat bahaya sekali jika SELFWORTH tidak dipahami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar