Rabu, 19 April 2017

BERIMAN, BERDAYA, BERMANFAAT MEMBUAT ANDA BERHARGA

πŸ‚ πŸ‚

_Assalamu’alaykum Wr. Wb._

Sahabatku…
Hari ini saya ingin berbagi dengan Anda tentang 3 hal.
*Anda akan dihargai oleh siapa pun* termasuk diri Anda sendiri menghargai diri Anda, saudara Anda, sahabat Anda, rekan Anda, masyarakat Anda sangat menghargai *ketika Anda memiliki 3 hal: iman, berdaya, bermanfaat.*

πŸ’Ž *Iman* adalah keyakinan. Kalau Anda yakin, maka Anda akan berani menghadapi masalah apa pun yang diberikan oleh Allah kepada Anda karena orang yakin adalah orang yang percaya. Dan orang yang percaya akan senantiasa tahu bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkannya, karena Anda yakin. *Karena yakinlah Anda melakukan apa pun yang terbaik dan Anda berani menghadapi apa pun karena Anda yakin bahwa dengan menghadapinya Allah bersama Anda dan Allah tidak akan pernah meninggalkan Anda.*

πŸ’Ž *Berdaya*. Dengan berdaya, orang menghargai Anda karena Anda punya kekuatan, kemampuan, keahlian. *Dengan berdaya, Anda akan mampu bersinergi dengan daya-daya yang lain di sekitar Anda.* Berdayalah, punyailah kekuatan, punyailah kemampuan, dan punyailah skill yang membuat Anda terhargai dan dihargai. Berdaya.

πŸ’Ž *Bermanfaat*. Ketika Anda sudah yakin dan Anda berdaya, maka Anda akan memiliki nilai manfaat, nilai fungsi, nilai guna *karena manfaat inilah yang akan dirasakan oleh orang di sekitar Anda*. Apalah artinya Anda memiliki suatu keilmuan, skill namun tidak memiliki manfaat, hanya dirasakan oleh diri Anda. *Itu egois.*

Jadi sekali lagi, kalau iman/keyakinan itu sebagaimana akar; berdaya sebagaimana batang yang sebagaimana kokoh, dan manfaat adalah sebagaimana buah, maka yakinlah *sebuah pohon akan sempurna ketika memiliki 3 hal tadi selain dia kuat, kokoh, dan dia juga memiliki buah.*

Salam sukses✊ _Wassalamu’alaykum Wr. Wb._

(Aris Ahmad Jaya, 19 April 2017)⁠

Senin, 17 April 2017

Makan Buah di saat Perut Kosong


Ini akan membuka mata Anda! Baca : sampai akhir dan kemudian mengirimkannya ke semua e-daftar Anda. Saya baru saja melakukannya !

Dr Stephen Mak memperlakukan pasien sakit kanker terminal oleh cara "un-ortodoks" dan banyak pasien sembuh.

Sebelum ia menggunakan energi matahari untuk membersihkan penyakit pasiennya, ia percaya pada penyembuhan alami dalam tubuh terhadap penyakit. Lihat artikelnya di bawah ini.

Ini adalah salah satu strategi untuk menyembuhkan kanker.
Sampai akhir, tingkat keberhasilan saya dalam menyembuhkan kanker adalah sekitar 80%.

Pasien kanker tidak akan meninggal. Obat untuk kanker sudah ditemukan - dalam cara kita makan buah-buahan.

Ini adalah apakah Anda percaya atau tidak.

Saya minta maaf untuk ratusan pasien kanker yang meninggal di bawah perawatan konvensional.

MAKAN BUAH
Kita semua berpikir makan buah berarti hanya membeli buah-buahan, memotongnya dan hanya memasukkannya ke dalam mulut kita.

Ini tidak semudah yang Anda pikirkan. Ini penting untuk mengetahui bagaimana dan kapan * * untuk makan buah-buahan.

Apa cara yang benar makan buah-buahan?

ITU BERARTI TIDAK MAKAN BUAH-BUAHAN SETELAH MAKANAN ANDA!

BUAH-BUAHAN HARUS DIMAKAN PADA PERUT KOSONG

Jika Anda makan buah pada saat perut kosong, itu akan memainkan peran utama untuk mendetoksifikasi sistem anda, menyediakan Anda dengan banyak energi untuk menurunkan berat badan dan kegiatan kehidupan lainnya.

BUAH ADALAH MAKANAN PALING PENTING.

Katakanlah Anda makan dua potong roti dan kemudian sepotong buah.
Potongan buah siap untuk pergi langsung melalui lambung ke dalam usus, tetapi dicegah karena roti diproses terlebih dahulu sebelum buah.

Sementara itu seluruh makan roti & buah membusuk dan fermentasi dan berubah menjadi asam.

Saat buah masuk dan berkontak dengan makanan di perut dan pencernaan jus, seluruh massa makanan mulai merusak.

Jadi silahkan makan buah-buahan Anda pada saat * perut kosong* atau sebelum makan Anda!

Anda telah mendengar orang mengeluh:

Setiap kali aku makan semangka aku bersendawa, ketika aku makan durian perutku kembung, ketika saya makan pisang terasa seperti pengen lari ke toilet, dll .. dll ..

Sebenarnya semua ini tidak akan muncul jika Anda makan buah pada waktu perut kosong.

Buah bercampur dengan makanan lain akan menghasilkan gas dan karenanya Anda akan bersendawa.

rambut putih, botak, gugup dan lingkaran hitam di bawah mata semua ini akan * TIDAK * terjadi jika Anda mengambil buah pada waktu perut kosong.

Tidak ada hal seperti beberapa buah-buahan, seperti jeruk dan lemon bersifat asam, karena semua buah-buahan menjadi basa dalam tubuh kita, menurut Dr Herbert Shelton yang melakukan penelitian mengenai hal ini.

Jika Anda telah menguasai cara yang benar makan buah-buahan, Anda memiliki * RAHASIA * keindahan, umur panjang, kesehatan, energi, kebahagiaan dan berat badan normal.

Bila Anda perlu minum jus buah - hanya minum jus buah segar * *, TIDAK dari kaleng, kemasan atau botol.

Bahkan tidak minum jus yang telah dimasak.

Jangan makan buah dimasak karena Anda tidak mendapatkan nutrisi sama sekali.

Anda hanya mendapatkan rasanya.
Memasak menghancurkan semua vitamin.

Tapi makan buah utuh lebih baik daripada minum jus.

Jika Anda harus minum jus buah segar, minumlah seteguk demi seteguk secara perlahan, karena Anda harus membiarkannya bercampur dengan air liur Anda sebelum menelannya.

Anda dapat terapi buah 3 hari untuk membersihkan atau detoksifikasi tubuh Anda.

Hanya makan buah dan minum jus buah segar sepanjang
3 hari.

Dan Anda akan terkejut ketika teman Anda memberitahu Anda bagaimana Anda terlihat berseri-seri!

*KIWI:*
Kecil tapi perkasa.
Ini adalah sumber yang baik dari potassium, magnesium, vitamin E & serat.
Kandungan vitamin C-nya adalah dua kali lipat dari jeruk.

*BUAH APEL:*
Satu apel sehari dapat menghindarkan dari penyakit?
Meskipun sebuah apel memiliki kandungan vitamin C rendah, ia memiliki antioksidan & flavonoid yang meningkatkan aktivitas vitamin C dengan demikian membantu untuk menurunkan resiko kanker usus, serangan jantung & stroke.

*STROBERI:*
Buah pelindung.
Stroberi memiliki total kekuatan antioksidan tertinggi di antara buah-buahan utama & melindungi tubuh dari penyebab kanker, darah kapal-penyumbatan dan radikal bebas.

*JERUK :*
Obat yang paling manis.
Mengambil 2-4 jeruk dalam sehari dapat membantu agar pilek menjauh, menurunkan kolesterol, mencegah dan melarutkan batu ginjal serta mengurangi resiko kanker usus.

*SEMANGKA:*
Pemadam Haus terhebat. Terdiri dari 92% air, juga dikemas dengan dosis raksasa glutathione, yang membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh kita.

Mereka juga merupakan sumber utama Likopen oksidan melawan kanker.
Nutrisi lain yang ditemukan dalam semangka adalah vitamin C & Potasium.

*JAMBU & PEPAYA:*
Top penghargaan untuk vitamin C. Mereka adalah pemenang yang jelas untuk konten vitamin C tinggi mereka.

Jambu biji juga kaya serat, yang membantu mencegah sembelit.

Pepaya kaya akan karoten; ini baik untuk mata Anda.

Minum air dingin atau minuman dingin setelah makan = Kanker

Dapatkah Anda percaya ini?

Bagi mereka yang suka minum air dingin atau minuman dingin, artikel ini mungkin berguna untuk Anda.

Memang terasa segar minum segelas air dingin atau minuman dingin setelah makan.

Namun, air dingin atau minuman akan memadatkan minyak yang baru saja dimakan.

Ini akan memperlambat pencernaan.

Setelahnya 'endapan' ini bereaksi dengan asam, akan merusak dan diserap usus lebih cepat dari pada makanan padat.

Ini akan berbaris dalam usus besar.

Sangat segera, ini akan berubah menjadi LEMAK dan menyebabkan KANKER!

Cara terbaik adalah untuk minum sup panas atau air hangat setelah makan.

Catatan penting tentang serangan jantung.

SERANGAN JANTUNG (INI BUKAN LELUCON!)

Perempuan harus tahu bahwa tidak setiap gejala serangan jantung akan merasakan sakit pada lengan kiri.

Menyadari rasa sakit di garis rahang.

Anda mungkin tidak pernah memiliki nyeri dada pertama selama serangan jantung.

Mual dan berkeringat intens juga gejala umum.

60% orang yang mengalami serangan jantung saat mereka tertidur tidak akan bangun lagi.

Rasa sakit di rahang bisa membangunkan Anda dari tidur nyenyak.

Mari berhati-hati dan waspada. Semakin banyak kita tahu, semakin lebih baik kesempatan kita bisa bertahan hidup.

Seorang ahli jantung mengatakan:
jika semua orang yang mendapatkan artikel ini mengirimkannya ke 10 orang, kami yakin setidaknya dapat menyelamatkan 1 nyawa.

Jadi mari kita semua melakukan minimal 1 pekerjaan yang baik hari ini.
πŸŒπŸŽπŸπŸŠπŸ‹πŸ’πŸ‡πŸ‰

SELAMAT BERBAGI PADA SAUDARA2 N SAHABAT2 KITAπŸ‘πŸΌπŸ˜ƒ

Sabtu, 15 April 2017

HASIL TIDAK AKAN MENGKHIANATI PROSES



_Assalamu’alaykum Wr. Wb._

Apa kabar sahabatku? 😊…
Semoga hari-hari ini adalah hari bahagia, hari berkontribusi, dan hari yang penuh arti.

Saya ingin berbagi dengan Anda tentang *kekuatan sebuah proses*. *Hasil tidak pernah mengkhianati proses*.
Sahabatku… banyak orang yang ingin bahagia dengan cara instant, dengan cara membuat orang lain tidak bahagia.
Sebagian lagi ingin sukses dengan cara yang cepat, dengan cara membuat orang lain terhambat kesuksesannya.
Bahkan sebagian yang lain menghalalkan semua cara sehingga cara-cara yang secara prinsip menyalahi tata aturan agama, tata aturan Negara, mereka libas dan mereka halalkan. Sekali lagi, hasil tidak pernah mengkhianati proses.

_Tahukah Anda apakah yang membedakan orang yang berproses dengan orang yang tiba-tiba mencapai finish tanpa melalui sebuah proses?_ Anda bayangkan, seseorang yang mendapatkan ijazah dengan belajar sekian lama 4-5 tahun di sebuah perguruan tinggi, tentu mereka sangat menikmati suasana wisuda, bercengkrama dengan teman-temannya, berdiskusi, bercerita tentang masa lalu, tentang perjalanan, tentang kehidupan, remedial, setiap langkah terasakan indah, karena mereka adalah pelaku dari sebuah proses menuju ke wisuda.

Bayangkan dengan seseorang yang tiba-tiba mendapatkan ijazah palsu sehingga dia pun ikut wisuda dan dia duduk di antara orang-orang yang melalui sebuah proses, tentu dia akan merasa asing. Ketika dia ditanya jurusan apa? Dia pun gelagapan. Ditanya temannya siapa? Pembimbingnya siapa? Atau bahkan ketika ditanya masuk tahun berapa? Dia pasti gelagapan. Kenapa? Karena dia tidak melalui sebuah proses untuk mendapatkan hasil akhir.

Begitu pun kita, saya dan Anda. *Ketika Anda ingin menjadi orang yang sukses dan memiliki sejarah, maka pastikan bahwa Anda adalah manusia-manusia yang berani membayar harganya melalui sebuah proses yang Anda investasikan dari waktu, tenaga, biaya, korban perasaan, dan lain-lain.*

Jadi ingat baik-baik! *ketika Anda ingin menjadi sesuatu, maka pastikan bahwa Anda adalah orang-orang yang siap melalui sebuah proses karena hasil tidak pernah mengkhianati proses. Ketika proses Anda adalah yang terbaik, Allah akan menunjukan jalan, memudahkan jalan, dan memberikan hasil yang terbaik untuk Anda.*
Namun sebaliknya, manakala Anda tidak melalui sebuah proses dan tiba-tiba ingin mendapatkan hasil seperti orang-orang yang korupsi atau pun orang-orang yang membeli ijazah-ijazah palsu atau sang penipu-penipu yang ingin mendapatkan *sesuatu yang hebat dengan cara mengorbankan banyak hal tanpa proses baik, maka sesungguhnya mereka telah menipu dirinya sendiri dan Insyaa Allah mereka pun akan tertipu.*

Sekali lagi, *kalau kita melakukan sebuah proses dan kita mengalami kegagalan, sesungguhnya kita tidak sedang mengalami kegagalan*… KITA SEDANG MENUJU KE SEBUAH TITIK YANG LEBIH BAIKπŸƒπŸƒ. *Saya dan Anda tidak pernah gagal, yang gagal adalah peristiwanya*. Seorang gadis yang menggoreng tempe dan tempenya gosong, yang gosong adalah tempenya, bukan gadisnya.
Jadi sekali lagi, yang gagal adalah peristiwanya, bukan kita. *Kita adalah sosok pelaku, sedangkan peristiwanya bisa diulang lagi dengan cara yang berbeda.*

_Wassalamu’alaykum Wr. Wb._

(Aris Ahmad Jaya, 15 April 2017)⁠

Rabu, 12 April 2017

Walisongo Adalah Utusan Khalifah Utsmaniyah

Yg terlupakan dalam sejarah emas Umat Islam...

**

Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Kondisi ini tidak lepas dari peranan para ulama yang disebut sebagai Walisongo (sembilan wali). Sedikit orang yang mengetahui siapa sebenarnya Walisongo dan berasal dari mana kah mereka.

Sebuah kitab bernama Kanzul Hum karya Ibnu Bathutah yang sekarang disimpan di museum Istana Turki di Istanbul menyebutkan bahwa Walisongo datang ke Indonesia atas perintah Sultan Muhammad I untuk menyebarkan agama Islam.

Pada tahun 1404 M (808 H) Sultan mengirim surat kepada para pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah dengan maksud untuk meminta sejumlah ulama agar diberangkatkan ke pulau Jawa. Para ulama yang dimaksud adalah mereka yang memiliki kemampuan dalam segala bidang agar nantinya akan memudahkan proses penyebaran Islam.

Dengan keterangan di dalam kitab tersebut kita menjadi tahu bahwa sebenarnya Walisongo adalah para ulama yang sengaja diutus Sultan pada masa kekhalifahan Utsmani. Saat itu terdapat 6 angkatan keberangkatan yang masing-masing terdiri dari sembilan orang. Jadi jumlah sebenarnya bukan sembilan ulama tetapi jauh lebih banyak.

Angkatan satu dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim asal Turki yang berangkat pada tahun 1400an. Beliau adalah ulama yang memiliki keahlian dalam bidang politik dan sistem pengairan. Dengan berbekal keahlian tersebut maka beliau menjadi peletak dasar berdirinya kesultanan di pulau Jawa dan juga berhasil memajukan pertanian di pulau ini.

Angkatan pertama ini juga terdiri dari dua orang ulama yang berasal dari Palestina yaitu Maulana Hasanuddin dan Sultan Aliudin. Dua orang ulama ini berdakwah di Banten dan mendirikan kesultanan Banten. Maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat Banten yang merupakan keturunan dari Sultan Hasanuddin memiliki hubungan secara biologis dengan rakyat Palestina.

Selain itu ada Syekh Ja'far Shadiq yang diberi julukan sebagai Sunan Kudus dan Syarif Hidayatullah yang disebut sebagai Sunan Gunung Jati. Kedua ulama ini juga berasal dari Palestina. Dalam proses dakwah beliau, Sunan Kudus membangun sebuah kota di Jawa Tengah yang kemudian disebut kota Kudus. Nama kota tersebut berasal dari kata Al Quds (Jerusalem).

Masyarakat Nusantara pertama kali mengenal Islam pada abad 7 Masehi atau abad 1 Hijriah. Pengaruh Islam sangat besar pada situasi politik saat itu. Dengan semakin berkembangnya ajaran Islam di Nusantara ketika itu, maka bermunculan lah berbagai kerajaan dan kesultanan Islam seperti Kesultanan Peureulak, Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang, Ternate, Tidore, Bacan (Maluku), Pontianak, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Kutai, Sambas, Banjar, Pasir, dan Sintang.

Sedangkan kesultanan yang berdiri di Jawa di antaranya adalah Demak, Pajang, Cirebon, dan Banten. Di Sulawesi, syariat Islam diterapkan dalam institusi kerajaan Gowa Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Di Daerah Nusa Tenggara hukum Islam diterapkan dalam kesultanan Bima.

*Perjalanan Dakwah Wali Songo*

Sebelum tiba di tanah Jawa, pada umumnya para ulama ini singgah terlebih dahulu di Pasai. Penguasa Samudera Pasai yang hidup pada tahun 1349-1406 Masehi, Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah adalah orang yang mengantarkan Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Tanah Jawa.

Sejak tahun 1463 Masehi semakin banyak ulama Jawa yang menggantikan ulama yang telah wafat atau berhijrah ke tempat lain. Para ulama pengganti tersebut di antaranya:

- Raden Paku (Sunan Giri)

Beliau adalah putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu yang merupakan putri dari Prabu Menak Sembuyu Raja Blambangan.

- Raden Said (Sunan Kalijaga)

Beliau adalah putra Bupati Tuban, Adipati Wilatikta atau disebut juga Raden Sahur. Berdasarkan sejarah masyarakat Cirebon, julukan Kalijaga berasal dari nama salah satu desa di Cirebon bernama Kalijaga. Saat Raden Said bermukim di desa tersebut, beliau sering berdiam diri dengan berendam di kali (jaga kali).

- Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang)

Beliau adalah putra dari Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila. Nama Bonang berasal dari nama sebuah desa di Rembang.

- Raden Qasim Dua (Sunan Drajad)

Seperti halnya Sunan Bonang, beliau juga adalah putra Sunan Ampel. Dengan demikian Sunan Drajad adalah saudara dari Sunan Bonang.

Para ulama diberi gelar Raden yang berasal dari kata Rahadian dan berarti Tuanku, maka dapat disimpulkan bahwa saat itu dakwah Islam telah berjalan dengan baik dan mendapat kehormatan dari kalangan pembesar Kerajaan Majapahit.

*Para Ulama Penyebar Agama Islam Di Nusantara*

Wali Songo Angkatan Ke-1, tahun 1404 M/808 H. Terdiri dari:

1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.
2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.
5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.
9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli ruqyah.

Wali Songo Angkatan ke-2, tahun 1436 M, terdiri dari :

1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Maulana Ishaq, asal Samarqand, Rusia Selatan
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina
8. Maulana 'Aliyuddin, asal Palestina
9. Syekh Subakir, asal Persia Iran.

Wali Songo Angkatan ke-3, 1463 M, terdiri dari:

1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim

Wali Songo Angkatan ke-4,1473 M, terdiri dari :

1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim

Wali Songo Angkatan ke-5,1478 M, terdiri dari :

1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Syaikh Siti Jenar, asal Persia, Iran
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim

Wali Songo Angkatan ke-6,1479 M, terdiri dari :

1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon
5. Sunan Kudus, asal Palestina
6. Sunan Tembayat, asal Pandanarang
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim

*Hubungan Kesultanan Nusantara Dengan Kerajaan Islam di Turki dan Arab*

Hubungan antara kerajaan Islam Aceh dengan Khilafah Utsmaniyah juga dapat diketahui dari keterangan seorang sejarahwan, Bernard Lewis, yang mengungkapkan bahwa pada tahun 1563 Masehi pembesar kerajaan Aceh mengutus seseorang ke Istanbul guna meminta bantuan melawan Portugis. Dia berusaha meyakinkan Khilafah bahwa raja-raja di kawasan tersebut telah bersedia memeluk Islam jika Khalifah Utsmaniyah mau menolong mereka.

Namun sayangnya pada saat itu Kekhalifahan Utsmaniyah sedang mengalami berbagai permasalahan genting yaitu pengepungan Malta dan Szigetvar di Hungaria dan mangkatnya Sultan Sulaiman Agung. Setelah terhambat selama dua bulan akhirnya mereka membentuk sebuah armada perang yang terdiri dari 19 unit kapal perang dan beberapa kapal pengangkut persenjataan dan persediaan untuk dikirim ke Aceh.

Hal yang disayangkan adalah sebagian besar kapal tersebut tidak pernah tiba di Aceh. Kapal-kapal tersebut dialihkan untuk tugas yang lebih mendesak yaitu memulihkan kekuasaan Utsmaniyah di Yaman. Kapal yang tiba di Aceh hanya dua unit saja dan langsung digunakan untuk mengusir Portugis. Catatan Sejarah mengenai hal ini dapat ditemukan dalam berbagai arsip dokumen negara Turki dan buku-buku yang ditulis oleh sejarahwan dunia.

Selain itu dalam Bustanus Salatin karangan Nuruddin ar-Raniri juga disebutkan bahwa kesultanan Aceh telah menerima bantuan militer dari Khalifah Utsmaniyah berupa senjata disertai pengajar yang khusus dikirim untuk mengajarkan cara pemakaiannya.

Kaitan antara kesultanan Banten dengan kerajaan di Timur Tengah juga dapat terlihat dari gelar-gelar kehormatan yang diberikan kepada para pembesar kerajaan Islam di Nusantara. Gelar tersebut di antaranya:

- Kesultanan Banten

Abdul Qadir dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Mekkah saat itu.

- Kesultanan Mataram

Pangeran Rangsang memperoleh gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami dari Syarif Mekah pada tahun 1641 Masehi.

Pada tahun 1652 hubungan antara kesultanan Aceh dan Turki juga semakin erat dengan adanya pengiriman utusan Aceh ke Turki dalam upaya meminta bantuan meriam. Khalifah Utsmaniyah mengirim 500 orang pasukan Turki untuk mengawal pengiriman meriam dan amunisi.

Selanjutnya pada tahun 1567, Sultan Salim II mengirim armada ke Sumatera. Melihat kedekatan antara kaum muslimin di Nusantara dengan Kekhalifahan Utsmaniyah, seorang pejabat pemerintahan kolonial Belanda, Snouck Hurgronje, mengatakan, "Di kota Mekah terletak jantung kehidupan agama kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darah segar ke seluruh penduduk Muslim di Nusantara."

Menjelang abad modern pun hubungan tersebut masih terjalin baik, terbukti pada akhir abad 20 konsulat Turki di Jakarta pernah membagikan Al Quran atas nama Sultan Turki. Istanbul juga pernah mencetak tafsir Al Quran berbahasa melayu karangan Abdur Rauf Sinkili. Pada halaman depan tafsir al Quran tersebut tertulis "Dicetak oleh Sultan Turki, raja seluruh orang Islam." Pada saat itu yang disebut Sultan Turki adalah Khalifah yang merupakan pemimpin Khilafah Utsmaniyah berpusat di Turki.

Snouck Hurgronje juga pernah mengatakan bahwa pada umumnya rakyat di Indonesia terutama mereka yang tinggal di pelosok daerah di seluruh tanah air, memandang Stambol (sebutan untuk Khalifah Utsmaniyah) masih sebagai raja bagi seluruh orang mukmin yang saat itu kekuasaannya agak berkurang karena adanya penguasaan orang kafir di Indonesia.

Melihat fakta-fakta sejarah tersebut maka dapat disimpulkan bahwa memang Nusantara pada jaman dahulu adalah bagian dari khilafah baik saat kekuasaan Khilafah Abbasiyah Mesir maupun Khilafah Utsmaniyah Turki.

Berdasarkan bentuk kekhalifahan saat itu, Syarif Mekah adalah seorang gubernur pada masa Khilafah Abbasiyah dan Khilafah Utsmaniyah untuk daerah Hijaz. Karena itu penganugerahan gelar sultan kepada para pembesar kerajaan Islam di Nusantara lebih merupakan pengukuhan sebagai penguasa Islam dan bukan gelar semata.

*Sejarah Masuknya Agama Islam Di Indonesia*

Sebelum kita mengenal beberapa teori tentang penyebaran Islam di Nusantara, perlu di perhatikan bahwa Politik Luar Negeri Negara Khilafah terdiri dari dua; Da’wah dan Jihad. Awalnya negeri yang ditargetkan akan diberi dakwah, ketika menerima maka tidak ada perang di sana. Namun, ketika menolak, maka akan terjadi Jihad dan Futuhat (Pembebasan). Dua hal ini adalah politik Luar Negeri, dimana di setiap perkembangan akan disampaikan kepada Khalifah.

Itu pula yang terjadi di Indonesia. Jika penyebaran Islam di lakukan oleh pedagang semata, bukan Da’i atau utusan, maka apakah akan ada laporan kepada Khalifah? Lalu, apakah penyebaran lewat jalur perdagangan merupakan Politik Luar Negeri? Apakah penyebaran Islam dengan jalur perdagangan hanya propaganda untuk menutupi bahwa Nusantara pernah menjadi fokus dakwah Islam dan menjadi bagian dari Khilafah?

Dari teori Islamisasi oleh Arab dan China, Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam Indonesia, mengaitkan dua teori Islamisasi tersebut. Islam datang ke Indonesia pada abad ke-7 Masehi. Penyebarannya pun bukan dilakukan oleh para pedagang dari Persia atau India, melainkan dari Arab. Sumber versi ini banyak ditemukan dalam literatur-literatur China yang terkenal, seperti buku sejarah tentang China yang berjudul Chiu Thang Shu.

Menurut buku ini, orang-orang Ta Shih, sebutan bagi orang-orang Arab, pernah mengadakan kunjungan diplomatik ke China pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah. 4 tahun kemudian, dinasti yang sama menerima delegasi dari Tan Mi Mo Ni, sebutan untuk Amirul Mukminin. Selanjutnya, buku itu menyebutkan, bahwa delegasi Tan Mi Mo Ni tersebut merupakan utusan yang dikirim oleh khalifah yang ketiga. Ini berarti bahwa Amirul Mukminin yang dimaksud adalah Khalifah Utsman bin Affan.

Pada masa berikutnya, delegasi-delegasi muslim yang dikirim ke China semakin bertambah. Pada masa Khilafah Umayyah saja, terdapat sebanyak 17 delegasi yang datang ke China. Kemudian pada masa Dinasti Abbasiyah, ada sekitar 18 delegasi yang pernah dikirim ke China.

Bahkan pada pertengahan abad ke-7 Masehi, sudah terdapat perkampungan-perkampungan muslim di daerah Kanton dan Kanfu. Sumber tentang versi ini juga dapat diperoleh dari catatan-catatan para peziarah Budha-China yang sedang berkunjung ke India. Mereka biasanya menumpang kapal orang-orang Arab yang kerap melakukan kunjungan ke China sejak abad ketujuh. Tentu saja, untuk sampai ke daerah tujuan, kapal-kapal itu melewati jalur pelayaran Nusantara.

Beberapa catatan lain menyebutkan, delegasi-delegasi yang dikirim China itu sempat mengunjungi Zabaj atau Sribuza, sebutan lain dari Sriwijaya. Umumnya mereka mengenal kebudayaan Budha Sriwijaya yang sangat terkenal pada masa itu. Kunjungan ini dikisahkan oleh Ibnu Abd al-Rabbih, ia menyebutkan bahwa sejak tahun 100 hijriah atau 718 Masehi, sudah terjalin hubungan diplomatik yang cukup baik antara Raja Sriwijaya, Sri Indravarman dengan Khalifah Umar Ibnu Abdul Aziz.

Lebih jauh, dalam literatur China itu disebutkan bahwa perjalanan para delegasi itu tidak hanya terbatas di Sumatera saja, tetapi sampai pula ke daerah-daerah di Pulau Jawa. Pada tahun 674-675 Masehi, orang-orang Ta Shi (Arab) yang dikirim ke China itu meneruskan perjalanan ke Pulau Jawa. Menurut sumber ini, mereka berkunjung untuk mengadakan pengamatan terhadap Ratu Shima, penguasa Kerajaan Kalingga, yang terkenal sangat adil itu.

Pada periode berikutnya, proses Islamisasi di Jawa dilanjutkan oleh Wali Songo. Mereka adalah para muballig yang paling berjasa dalam mengislamkan masyarakat Jawa. Dalam Babad Tanah Djawi disebutkan, para Wali Songo itu masing-masing memiliki tugas untuk menyebarkan Islam ke seluruh pelosok Jawa melalui tiga wilayah penting. Wilayah pertama adalah Surabaya, Gresik, dan Lamongan di Jawa Timur.

Wilayah kedua adalah, Demak, Kudus, dan Muria di Jawa Tengah. Dan wilayah ketiga adalah, Cirebon di Jawa Barat. Dalam berdakwah, para Wali Songo itu menggunakan jalur-jalur tradisi yang sudah dikenal oleh orang-orang Indonesia kuno. Yakni melekatkan nilai-nilai Islam pada praktik dan kebiasaan tradisi setempat. Dengan demikian, tampak bahwa ajaran Islam sangat luwes, mudah dan sanggup memenuhi kebutuhan masyarakat Jawa saat itu.

Selain berdakwah dengan tradisi, para Wali Songo itu juga mendirikan pesantren-pesantren, yang digunakan sebagai tempat untuk menelaah ajaran-ajaran Islam. Pesantren Ampel Denta dan Giri Kedanton, adalah dua lembaga pendidikan yang paling penting di masa itu. Bahkan dalam pesantren Giri di Gresik, Jawa Timur itu, Sunan Giri berhasil mendidik ribuan santri yang akhirnya dikirim ke beberapa daerah di Nusa Tenggara dan wilayah Indonesia Timur lainnya.

*Penjajah Belanda Menghapuskan Jejak Khilafah*

Pada masa penjajahan, Belanda berusaha menghapuskan penerapan syariah Islam oleh hampir seluruh kesultanan Islam di Indonesia. Salah satu langkah penting yang dilakukan Belanda adalah menyusupkan pemikiran dan politik sekuler melalui Snouck Hurgronye. Dia menyatakan dengan tegas bahwa musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama.

Dari pandangan Snouck tersebut penjajah Belanda kemudian berupaya melemahkan dan menghancurkan Islam dengan 3 cara. Pertama: memberangus politik dan institusi politik/pemerintahan Islam. Dihapuslah kesultanan Islam. Contohnya adalah Banten. Sejak Belanda menguasai Batavia, Kesultanan Islam Banten langsung diserang dan dihancurkan. Seluruh penerapan Islam dicabut, lalu diganti dengan peraturan kolonial Belanda.

Kedua: melalui kerjasama raja/sultan dengan penjajah Belanda. Hal ini tampak di Kerajaan Islam Demak. Pelaksanaan syariah Islam bergantung pada sikap sultannya. Di Kerajaan Mataram, misalnya, penerapan Islam mulai menurun sejak Kerajaan Mataram dipimpin Amangkurat I yang bekerjasama dengan Belanda.

Ketiga: dengan menyebar para orientalis yang dipelihara oleh pemerintah penjajah. Pemerintah Belanda membuat Kantoor voor Inlandsche zaken yang lebih terkenal dengan kantor agama (penasihat pemerintah dalam masalah pribumi). Kantor ini bertugas membuat ordonansi (UU) yang mengebiri dan menghancurkan Islam. Salah satu pimpinannya adalah Snouck Hurgronye.

Dikeluarkanlah: Ordonansi Peradilan Agama tahun 1882, yang dimaksudkan agar politik tidak mencampuri urusan agama (sekularisasi); Ordonansi Pendidikan, yang menempatkan Islam sebagai saingan yang harus dihadapi; Ordonansi Guru tahun 1905 yang mewajibkan setiap guru agama Islam memiliki izin; Ordonansi Sekolah Liar tahun 1880 dan 1923, yang merupakan percobaan untuk membunuh sekolah-sekolah Islam. Sekolah Islam didudukkan sebagai sekolah liar.

Demikianlah, syariat Islam mulai diganti oleh penjajah Belanda dengan hukum-hukum sekuler. Hukum-hukum sekuler ini terus berlangsung hingga sekarang. Maka tidak salah jika dikatakan bahwa hukum-hukum yang berlaku di negeri ini saat ini merupakan warisan dari penjajah, sesuatu yang justru seharusnya dienyahkan oleh kaum Muslim, sebagaimana mereka dulu berhasil mengenyahkan sang penjajah: Belanda.