Ini resensi bukunya (oleh Ferinaldy Hypno Motivator)
Drive, diartikan sebagai suatu hal yang mendorong ataupun memotivasi kita untuk melakukan sesuatu. Sudah merupakan pendapat umum bahwa sebagai manusia dalam bertindak kita didorong oleh insentif, keinginan untuk mendapatkan hadiah (atau sesuatu yang menyenangkan). Sebaliknya kita cenderung tidak melakukan sesuatu dikarenakan takut akan adanya hukuman (atau sesuatu yang tidak menyenangkan). Dalam literature manajemen hal ini dianalogikan dengan keledai yang untuk membuatnya berjalan adalah dengan mengumpan wortel (carrot) di depannya agar dia terus mau, atau dengan cara memukul pantatnya dengan kayu (stick). Metode ini lazimnya disebut stick and carrot, atau reward and punishment.
Bertahun-tahun pemikiran inilah yang mendasari teori manajemen modern. Perusahaan-perusahan beranggapan bahwa tanpa insentif yang memadai maka orang akan bermalas-malasan dalam bekerja, maka muncullah program-program insentif berdasarkan target. Untuk tindakan-tindakan yang tidak disukai perusahaan maka dibuatlah sanksi-sanksi dan hukuman-hukuman: surat peringatan, denda, pemotongan bonus, dsb. Bertahun-tahun pendekatan ini berjalan dengan baik dan dipercaya efektivitasnya. Sampai suatu saat pendekatan ini tidak lagi memadai untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi.
Dalam organisasi Sales, seringkali digunakan sistem insentif tak terbatas untuk mendorong karyawan mencapai hasil paling maksimal. Dengan metode stick and carrot dalam hal ini wortel yang diberikan cukup menggiurkan. Namun hasilnya ternyata tidak selalu meningkatkan pencapaian. Bahkan dari penelitian ditemukan bahwa sistem seperti ini hanya memberikan hasil jangka pendek, setelah itu perilaku karyawan kembali ke kebiasaan lamanya. Bahkan sistem ini malah menjadi candu, sekali insentif diberikan, maka tidak bisa lagi dihilangkan. Bila sistem insentif dihilangkan, maka performa kerja akan turun. Untuk meningkatkan performa, maka insentif setelah periode tertentu harus ditambah agar performa kerja bisa meningkat. Persis seperti orang yang kecanduan.
Fenomena lain yang tidak bisa dijelaskan metode stick and carrot adalah open source. Tulisan ini diupdate ke blog menggunakan Mozilla Firefox, browser gratis yang dibuat oleh orang-orang dari seluruh dunia yang bekerja sama di dunia maya tanpa dibayar. Saingan dari browser ini adalah Internet Explorer dari Microsoft dengan programmer terpintar di dunia, disertai dengan gaji yang lebih besar serta bonus-bonus yang menarik. Menurut metode stick and carrot, seharusnya Internet Explorer lah yang lebih unggul daripada Mozilla Firefox. Pada kenyataannya saat ini Mozilla Firefox adalah browser terpopuler di dunia. Contoh yang sama juga terjadi dalam perkembangan Wikipedia, ensiklopedi online yang dibuat oleh jutaan orang tanpa bayaran dan banyak lagi contoh lainnya.
Paradigma lama manajemen tidak mampu untuk menjelaskan fenomena-fenomena ini, oleh karena itulah dibutuhkan sebuah paradigm baru untuk menjelaskannya. Penulis merumuskan paradigma baru dengan teori prilaku Tipe X dan Tipe I.
Perilaku Tipe X disebabkan oleh faktor ekstrinsik seperti hadiah dan hukuman. Sedangkan Perilaku I disebabkan oleh faktor intrinsik seperti otonomi, penguasaan (mastery) dan tujuan. Perilaku Tipe I inilah yang membuat orang mau bekerja keras berhari-hari, kurang istirahat, tanpa dibayar untuk mencapai sesuatu hal yang menurutnya pantas.
Perilaku inilah yang menjelaskan fenomena dibalik open source yang sekarang ini menjamur di mana-mana, perilaku perusahaan seperti Google yang memberikan waktu 20% dari jam kerja karyawan untuk masing-masing mengejar projek di luar kebijakan perusahaan.
Perilaku Tipe I akan dihasilkan bila ada tiga hal: otonomi, penguasaan (mastery) dan tujuan. Walau demikian, ketiga hal itu baru akan menghasilkan performa kerja yang besar bila kebutuhan dasar karyawan telah terpenuhi terlebih dahulu. Bagi karyawan yang bayarannya masih di bawah rata-rata industri, yang penghasilannya belum mencukupi kebutuhan hidupnya tidak ada gunanya diberikan otonomi, penguasaan ataupun tujuan. Hal ini ibarat berbicara dengan orang yang sedang kelaparan mengenai apa tujuan hidupnya 5 tahun lagi. Setelah kebutuhan utamanya dipenuhi, pada suatu titik tidak ada gunanya lagi memenuhi perut orang kelaparan itu karena kapasitas perut hanyalah segitu-segitu saja. Setelah kebutuhan dasar dipenuhi, baru orang tsb bisa diajak bicara mengenai masa depan.
Penulis melihat sekarang ini banyak pekerja yang tidak lagi melihat pekerjaan sebagai suatu pekerjaan rutin yang membosankan dan hanya untuk mencari uang saja. Makin banyak pekerja yang ingin pekerjaan memiliki makna dan tujuan yang baik. Pekerja juga mencari suasana kerja dimana dia bisa mendapatkan otonomi dari segi waktu, sumber daya yang bisa digunakan, maupun cara bekerja. Hal inilah yang di masa depan akan membedakan antara tenaga kerja yang memiliki performa luar biasa dan yang tidak. Ini jugalah yang akan menjadi penentu kesuksesan perusahaan.
Sebenarnya apa yang diceritakan dalam buku ini memiliki kesamaan dengan apa yang disampaian oleh Victor Frankl dalam Man’s Search for Meaning, Stephen Covey dalam The Seven Habits of Highly Effective People. Walau demikian apa yang disampaikan penulis di sini juga memiliki perspektif yang berbeda dan ditambahkan dengan perkembangan riset dan teori psikologi perilaku yang terbaru. Walau anda telah membaca dua buku yang saya sebutkan di atas, anda akan tetap mendapatkan manfaat yang luar biasa dari informasi yang disampaikan buku ini.
This book is a MUST READ!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar