Rabu, 04 Januari 2017

Tiga Hal yang Disukai dan yang Tidak Disukai Anak

By : Aris Ahmad Jaya,

3 Hal yang disukai anak akan menyebabkan anak mendengarkan kita, menghargai dan mengikuti kita. Sedangkan 3 hal yang tidak disukai akan menyebabkan dia menghindari kita, bahkan anti dengan apapun yang kita katakan kepadanya.

3 Hal yang Disukai Anak

💜*Pertama: Apresiasi* 

Apresiasi tidak harus berupa hadiah, tidak selalu berupa benda-benda atau barang. Anak jauh lebih suka ketika kehadirannya diapresiasi manakala dia melakukan aktivitas-akitvitas baik atau positif atau aktivitas-aktivitas yang menunjukan perkembangan upaya diri untuk menunjukan kebaikan.
Contoh sederhana: ketika anak mau mandi sendiri, mau pakai sepatu sendiri, mau merapikan tempat tidur sendiri, atau mau belajar sendiri, saat itulah kita menyatakan apa yang seharusnya kita ungkapkan sehingga dia tahu bahwa yang dikerjakan itu ternyata diapresiasi oleh orangtuanya. Contohnya: “ibu seneng deh kamu bisa belajar sendiri. Ibu suka, suka banget. Terima kasih ya”.
Atau “kalau kamu makanannya habis, ibu semangat deh, ibu jadi seneng masaknya kalau kamu setiap kali makannya habis seperti ini. Mudah-mudahan kamu nanti kaya raya karena bersyukur kepada Allah".

Atau ketika Ayah pulang kerja langsung menemui anaknya, “kata ibu, kamu tadi nilainya bagus ya? Selamat ya. Ayah semangat deh bekerjanya karena ayah bekerja untuk masa depanmu, biar kamu bisa sekolah tinggi. Nah kalau nilai kamu bagus seperti ini, Ayah semangat bekerjanya”.
Jadi *apresiasi adalah sesuatu yang sederhana, namun itu yang memungkinkan pikiran bawah sadar anak terbuka, dan mendengarkan nasehat kita*

💜*Kedua: Melibatkan anak, keberadaannya diakui, kehadirannya dianggap ada*.

Contoh ketika ibu mau masak, sekedar minta pendapat, “nak, hari ini kira-kira masak apa ya? masak sayur sop atau sayur asem? perut kamu enaknya apa?"
Atau, "kalau ibu mau pergi ke pengajian hari ini, bagusnya pake jilbab apa ya?"; atau, "menurut kamu, habis SD ini kamu mau masuk kemana? Mau ke pesantren atau ke sekolah Islam terpadu (SMPIT, misalnya)?. Kalau mau ke pesantren, pesantrennya apa? Kamu sukanya apa?". Bahkan ketika Anda jalan-jalan, kemudian ketika mau sekedar membeli sesuatu, misalnya kita minta pendapat, “kira-kira ketika ayah beli kacamata bagusan dimana ya?"
Yang jelas, libatkan dia. Bahkan ketika Anda memiliki sebuah pertanyaan, tidak ada salahnya libatkan dia sesuai dengan kapasitasnya.
Contoh: “menurut kamu, ketika misalnya ayah membuka bisnis kuliner, menurut kamu bagus gak?”

Kata-kata seperti itu akan menjadikan anak kehadirannya dianggap ada.

💜*Ketiga: Manakala dia didengarkan, ceritanya didengarkan*.

Ingat! Mendengar itu beda dengan mendengarkan. Kalau mendengar, Anda bisa main HP, bisa sambil nonton TV, bisa sambil mikir apa. Namun ketika mendengarkan, maka sesungguhnya Anda memang fokus, mengijinkan diri Anda sepenuhnya, panca indera Anda, memperhatikan dan konsentrasi sepenuhnya pada apa yang dia katakan. Dan tidak ada salahnya Anda punya kata kunci: “lalu?, terus? terus apa lagi? lalu bagaimana? oya?”.
Lalu setelah dia bercerita, Anda berikan pendapat.


3 Hal yang Tidak disukai anak.

3 hal yang tidak disukai akan menyebabkan dia menghindari kita, bahkan anti dengan apapun yang kita katakan kepadanya.

3 hal ini bisa jadi kita sering melakukannya, namun kita kurang menyadarinya. Diantaranya:

💜 Pertama: *mengabaikan kehadirannya atau menganggap kehadiran anak adalah biasa*.

Padahal ketika dia hadir dan Anda menyapanya, ketika dia pulang dan Anda benar-benar menyambutnya, atau kita benar-benar menganggap kehadirannya adalah bagian dari kehidupan kita, maka sesungguhnya anak Anda sangat terhargai.
Yang sering terjadi adalah *kita melihat, namun tidak memperhatikan kehadirannya*. 
*Kita mendengar tapi tidak mendengarkannya benar-benar kehadirannya* sehingga terjadilah sebuah rutinitas seolah-olah kehadirannya adalah sesuatu yang memang seharusnya hadir karena bagian dari kedisiplinan yang harus ditegakkan namun *kadang-kadang kita kurang menghargai perjuangannya*. Bayangkan ketika dia hujan-hujan dan harus pulang karena ingin mendisiplinkan dirinya atau dia harus benar-benar melakukan aktivitas yang kadang-kadang dia tidak sukai demi membahagiakan orangtua.
Contohnya: kadang-kadang putra-putri kita tidak terlalu suka untuk kursus apapun ataupun bahkan belajar secara sangat keras di rumah namun kadang-kadang dia harus melakukan itu semua karena dia tahu itu yang membuat orangtuanya suka, itu membuat orangtuanya bahagia.
Nah imbal baliknya harusnya adalah kita menghargai keberadaannya, menghargai kehadirannya dengan benar-benar menyapanya, mencoba kehadirannya adalah benar-benar ada.

💚 Kedua: *membandingkan*.

Kadang-kadang kita membandingkan kehidupan kita dengan kehidupannya. Seolah-olah kehidupan menderita dan anak kita bahagia atau membandingkan anak kita dengan kakak atau adiknya, atau membandingkan anak kita dengan tetangga atau membandingkan anak kita dengan sepupu atau dengan teman-temannya.

Yang jelas terkadang kita suka sekali membandingkan seolah-olah anak kita berada dalam sebuah posisi yang lebih kurang atau di bawah dari apa yang kita bandingkan. Yang jelas itu menimbulkan kebencian pada orang yang kita jadikan pembanding atau menjadi kekurangpercayaan diri atau citra dirinya menjadi rendah atau bahkan hancur.

💛 Ketiga: *kekurangmampuan orangtua untuk konsisten*.

Konsisten atas janji, konsisten atas ucapan, bahkan kadang-kadang anak menjadi kurang percaya atas apa yang dikatakan oleh orangtua. Intinya adalah ketika kita membuka atau melakukan janji dengan putra-putri kita seharusnya kita juga punya komitmen untuk menjalankannya, tidak mencari alasan yang memungkinkan janji itu seolah-olah hal yang biasa.

Jadi kekurangkonsistenan kita atas apa yang kita ucapkan, atas apa yang kita janjikan atau atas apa yang kita sudah sepakati menjadikan putra-putri kita menganggap apapun yang kita katakan adalah sesuatu yang tidak perlu diseriusi.

Itulah kurang lebih 3 hal yang kurang disukai oleh putra-putri kita. Pertama: kehadirannya ingin dihargai, namun selama ini kita kurang menghargai; kedua: membandingkan yang seharusnya kita lihat dari sisi baik dia, kalaupun Anda mau membandingkan perbandingan yang positif; ketiga: kurang konsisten, kurang menepati janji atas apa yang diucapkan.

Mudah-mudahan bermanfaat.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam bahagia,


(Aris Ahmad Jaya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar