Sabtu, 07 Januari 2017

Bahagia-Sedih Bagian Romantika Hidup

"perbesar porsi kebahagiaan dibanding porsi kesedihan"

Mengapa seseorang bisa sedemikian bersedih, namun dia juga mampu sedemikian bahagia?
Sahabatku yang dirahmati oleh Allah,
ternyata *sedih ataupun bahagia adalah sebuah rasa yang kita simbolkan dari bagaimana kita mengambil sebuah sudut pandang, cara melihat, cara melihat sesuatu yang hadir pada kehidupan kita*.

*Sesungguhnya tidak seorangpun yang mampu membuat Anda bahagia, kecuali Anda mengijinkannya. Begitupun sebaliknya*.
Tidak seorangpun yang mampu menyakiti hati Anda, kecuali Anda mengijinkan merasakan sakit itu. Sebuah contoh sederhana: ketika orang memuji Anda, mengapresiasi Anda, maka Anda sebenarnya telah membuka diri Anda untuk mengijinkan bahagia, untuk mengijinkan kebahagiaan karena diapresiasi.
Namun sebaliknya, ketika seseorang mengkritik Anda atau memojokan Anda atau bahkan memfitnah Anda, Anda biasanya membuka pintu mengijinkan tersakiti, untuk terzalimi, untuk sedih sehingga yang terjadi adalah Anda sedih dengan ketidakmampuan orang mengapresiasi Anda. Padahal *orang-orang yang mengapresiasi ataupun bahkan mengkritik adalah orang yang terpisah dari keputusan Anda. 
Anda bisa saja bahagia atau sedih atau ataupun sebaliknya sedih atau bahagianya sebenarnya bukan karena apa yang terjadi di sekitar Anda, tapi sangat tergantung bagaimana Anda memutuskan apakah Anda layak bahagia atau sedih*.
Kenapa banyak orang yang hidupnya sedih? Jawabannya adalah: karena dia membuka dirinya untuk sedih, menyetujui dirinya untuk sedih, mengijinkan dirinya untuk sedih.
Sebuah contoh sederhana: ketika seseorang telat naik pesawat dan akhirnya dia tertinggalkan pesawat itu, maka dia sedih karena dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia mengijinkan dirinya untuk sedih, dia menyalahkan kenapa tadi telat? kenapa terjadi macet? atau kenapa yang menjemput tidak segera sebagaimana janji awal?
Namun 1.5 jam kemudian dia mendengar bahwa pesawat yang seharusnya dia tumpangi ternyata mengalami kecelakaan, banyak penumpang yang menjadi korban. Setelah dia melihat di TV peristiwa itu, maka tiba-tiba dia langsung bersyukur, langsung senang, langsung bahagia. Artinya kesedihan yang dia rasakan karena ketelatan tadi teryata karena paradigmanya adalah dia tertinggal dan tidak mampu sesuai dengan jadwal. Namun ketika pesawat itu terjadi kecelakaan, maka dia berubah bahagia dan syukur, bukan bahagia karena pesawatnya terjadi kecelakaan dan memakan korban, BUKAN, tapi bahagia karena dirinya terselamatkan.

Jadi sekali lagi, ketika ada orang yang mengkritik Anda, maka Anda harus mampu menekan tombol 🔴 OFF. Artinya kritikan dia tidak seharusnya menyakiti saya, karena bisa jadi kritikan itu menujukan diri saya dari sisi yang berbeda dan saya harus memperbaikinya.
Namun ketika orang mengapresiasi, kita boleh 🔵 ON-kan, mengijinkan nyaman dan bahagia, namun berikutnya kita harus berupaya untuk membuktikan bahwa apresiasi yang diberikan kepada kita itu tidak salah alamat artinya kita layak diapresiasi karena memang kita seperti itu.

Sekali lagi, Anda hari ini bahagia karena Anda mengijinkan bahagia. Sebaliknya, Anda hari ini sedih dan susah karena Anda mengijinkan untuk sedih dan susah. Karena itu saya memberikan tips kepada Anda, *Anda harus mampu secara tepat kapan saatnya mengijinkan bahagia dan kapan saatnya mengijinkan untuk sedih* dikarenakan sedih dan bahagia itu merupakan bagian dari romantika hidup, namun *jangan sampai porsi kesedihan Anda jauh lebih besar daripada kebahagiaan Anda karena Anda senantiasa mengaktifkan pintu kesedihan, pintu ketidaknyamanan dibandingkan pintu kesyukuran ataupun kebahagiaan*.
Jadi sekali lagi, Anda akan bahagia ketika Anda bersyukur dan Anda akan senantiasa sedih ketika Anda selalu melihat dari sisi yang tidak nyaman.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Aris Ahmad Jaya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar