Senin, 20 Maret 2017

Reframing 2

Esai (43)

Reframing adalah upaya untuk membingkai ulang sebuah kejadian, dengan mengubah sudut pandang. Orang sering menyebutnya berpikir positif. Petik manfaatnya, ambil hikmahnya. Maka, sesuatu yang negatif bisa tampak bermanfaat dan membahagiakan. Dalam hadits Qudsi Allah berfirman; ”Aku di sisi persangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya ketika dia mengingatKu.” (Rowahu Bukhory). Dan Jabir meriwayatkan hadits yang didapat 3 hari sebelum Rasulullah SAW wafat. Beliau bersabda, ”Janganlah salah satu kalian meninggal, kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah.” (Rowahu Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan dan kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih dan teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu. Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum dan berkata kepada sang ibu; "Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan".  Ibu itu kemudian menutup matanya. "Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu. Bagaimana perasaan ibu?" Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yg murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; "Itu artinya tidak ada seorang pun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau-canda dan tawa-ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi". Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, napasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu dan kotoran di sana. Artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu." Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tersebut. "Sekarang bukalah mata ibu." Ibu itu membuka matanya. "Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?" Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku tahu maksud anda," ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor. Karena setiap melihat jejak sepatu di sana, ia tahu, keluarga yang dikasihinya ada di rumah. Ia di kelilingi orang-orang yang terkasih.

Kawan, banyak hal yang kita keluhkan dan kita permasalahkan, terkadang hanya karena kesalahan kecil. Yaitu kesalahan bagaimana kita memandangnya. Kebanyakan kita memandang seperti diri kita bukan apa adanya. Dan banyak dipengaruhi faktor-fakto negatif, dibanding positif. Jadi, bukan hanya kaca matanya saja yang harus bersih, letak sudut pandang pun sangat menentukan.
SAPMB AJKH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar